Perjuangan untuk Mendapatkan Pengobatan Hepatitis C di Penjara Sangat Mahal

Posted by
Oleh: Alex Smith, KCUR, 24 Januari 2018

Di sudut rumah Jymie Jimerson di kota Sparta, di Missouri barat daya, ia telah mendirikan semacam tempat suci. Rumah ini memiliki seni Amerika asli yang mewakili warisan Cherokee bersama dengan album, buku, dan foto Willie Nelson untuk mengingat almarhum suaminya.

“Ketika Steve masih muda, rambut, dan janggutnya berwarna merah, jadi dia selalu benar-benar mengenali ‘Red Headed Stranger‘ dari Willie,” kata Jimerson. “Saya mencoba menyimpannya di sana sebagai pengingat akan hari-hari yang lebih baik.” 

Suaminya, Steve Jimerson, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada 1996 karena perannya dalam pembunuhan dua orang. Jimerson mengatakan bahwa kehidupan suaminya telah dilanda penyalahgunaan narkoba. Tapi setelah dia masuk penjara, dia berhenti dari narkoba dan menjadi mentor untuk narapidana lain. 

“Begitu dia masuk penjara, pemulihan menjadi hidupnya,” kata Jimerson. “Dan itu adalah hasratnya sampai hari kematiannya.” 

Steve Jimerson meninggal pada tanggal 6 Januari 2017 karena komplikasi dari Hepatitis C, infeksi hati ini menyebar sangat luas di antara teman sepenjaranya. Waktu itu ia berusia 59 tahun.

Sementara penyakit ini umum terjadi pada orang yang dipenjara, pengobatan dengan obat hepatitis terbaru tidak ada.

Kelompok kebebasan sipil di Missouri dan setidaknya tujuh negara bagian lainnya sekarang menuntut agar banyak narapidana yang mendapatkan pengobatan Hepatitis C dengan generasi baru yang sangat efektif namun juga mahal. 

Setelah Steve Jimerson didiagnosis menderita Hepatitis C di penjara, istrinya berkata bahwa ia sedang mencari untuk pengobatan hepatitis C terkini. 

thermometer-1539191_1920

Pada tahun 2013, Ilmuwan Gilead mengenalkan Sovaldi, obat generasi pertama dari DAA yang bisa menyembuhkan Hepatitis C dan dengan efek samping yang lebih sedikit daripada pengobatan sebelumnya. Tapi kegembiraan itu terkendala oleh harga obat. Harga untuk menyelesaikan pengobatan sebesar  $84.000.

Menurut data internal dari Roderick & Solange MacArthur pusat hukum St Louis, pada tahun 2016 terdapat sekitar 5000 narapidana di penjara Missouri terinfeksi Hepatitis C yang dan tidak lebih dari 14 orang yang menerima pengobatan. Angka tersebut mencakup sekitar 15% dari 32 ribu orang populasi dari penjara Missouri.

Jimerson mengatakan bahwa suaminya tidak diberi DAA. Menjelang musim gugur 2016, kesehatannya memburuk dengan cepat, dan ia menjadi pesimis tentang kemungkinan penyembuhannya.

“Dia mengatakan kepada saya bahwa jika seseorang harus mati untuk meminta Departemen Permasyakatan untuk mengubah kebijakan mereka, dia bilang dia bersedia menjadi orang tersebut,” katanya. 

Baru-baru ini di tahun 2012, sejumlah narapidana di Missouri diobati dengan obat Hepatitis C lama,  salah satunya adalah interferon yang terkenal dengan efek sampingnya yang sangat berat. Namun, pada tahun 2013 Biro Pemasyarakatan mulai mengubah pedoman pengobatan untuk mengganti obat Hepatitis C lama dengan yang baru.

Menurut juru bicara Corizon Health, perusahaan swasta yang menyediakan perawatan kesehatan untuk narapidana, banyak negara mengikuti panduan tersebut termasuk Missouri.

Namun, pedoman yang diperbarui memberi lebih banyak kesempatan kepada lembaga pemasyarakatan untuk memutuskan kapan sebaiknya memberikan pengobatan. Dan saat Missouri menghapus penggunaan obat-obatan lama, obat ini jarang digunakan sama sekali. Hal ini membuat beberapa narapidana tidak mendapatkan pengobatan obat Hepatitis C sama sekali.

Pada bulan Desember 2016, American Civil Liberties Union (ACLU) dan MacArthur Justice Center menuntut agar Departemen Pemasyarakatan Missouri memberikan DAA kepada narapidana dengan Hepatitis C yang memenuhi syarat untuk menjalani perawatan. 

Pengacara ACLU Tony Rothert mengatakan bahwa praktik penanganan negara saat ini melanggar Klausul Hukuman Kejam dan Tidak Biasa di AS, bagian dari Amandemen Kedelapan. 

“Mahkamah Agung telah mengatakan dalam konteks perawatan medis, bahwa penjara tidak dapat dengan sengaja mengabaikan kebutuhan medis yang serius,” kata Rothert. “Hepatitis C memenuhi kriteria kebutuhan medis serius karena jika tidak diobati, ada kemungkinan Anda akan meninggal.” 

Para advokat yang membuat argumen ini mendapat dorongan besar untuk kasus mereka pada bulan November 2017, ketika seorang hakim federal di Florida memerintahkan agar penjara negara bagian mulai menyediakan DAA kepada narapidana setidaknya sampai kasus negara tersebut diadili pada bulan Agustus. 

“Ini adalah kemenangan besar bagi orang-orang yang dipenjara dan menderita Hepatitis C karena sekarang kita memiliki seorang hakim federal yang mengatakan, ‘Dengar, ini tidak masuk akal’, dan negara harus melakukan sesuatu mengenai hal itu,” kata Elizabeth Paukstis, Direktur Kebijakan Publik dari National Viral Hepatitis Roundtable. 

Pada bulan Juli 2017, tuntutan hukum Missouri mengambil lompatan ke depan ketika hakim yang mengawasi kasus tersebut mensertifikasinya sebagai class action atas nama narapidana negara dengan Hepatitis C. Departemen Pemasyarakatan Missouri dan Corizon, yang merupakan terdakwa dalam tuntutan hukum tersebut, telah mengajukan banding mengenai hal ini. 

Departemen Pemasyarakatan Missouri dan Corizon menolak untuk mengomentari tuntutan tersebut atau menjawab pertanyaan tentang protokol pengobatan Hepatitis C mereka selain mengatakan mereka telah mengikuti pedoman federal. 

Tetapi jika Missouri dan negara bagian lain diminta untuk menawarkan obat baru, mereka akan menghadapi masalah besar, kata Gregg Gonsalves, asisten profesor epidemiologi di Yale School of Public Health mengatakan. “Bahkan jika mereka ingin mengobati pasien, mereka akan kehabisan dana untuk mengobati setiap kondisi medis lainnya,” ia mengatakan. 

Misalnya, jika Missouri memberi 2.500 narapidana yang menurut ACLU adalah calon pengguna Harvoni, DAA yang digunakannya sekarang, biayanya akan melebihi $236 juta. Harga tersebut jauh melebihi anggaran Departemen Pemasyarakatan untuk keseluruhan kesehatan narapidana.

Gonsalves mengatakan bahwa munculnya obat baru yang lebih murah dapat membantu, dan beberapa sistem penjara negara telah berhasil menegosiasikan potongan harga.

Bahkan dengan biaya yang lebih rendah, memberikan obat-obatan ini dalam skala besar masih bisa menghabiskan banyak biaya. Tapi para pengacara menegaskan bahwa sangat penting untuk menghentikan penyebaran penyakit ini. Dan sebuah studi tahun 2015 menunjukkan bahwa sebanyak 12.000 nyawa akan diselamatkan jika narapidana di seluruh negara diskrining dan diobati. Mencegah transplantasi hati dan penyakit hati akan menghemat uang dalam jangka panjang. 

“Dorongan untuk mengobati penyakit menular di sistem penjara karena ini adalah populasi yang dapat dijangkau, sekaligus  populasi yang dapat disembuhkan serta populasi yang dapat membantu mencegah infeksi ke depannya ,” kata Gonsalves. 

Jymie Jimerson mengerti bahwa banyak orang mungkin ragu untuk memberikan perawatan kesehatan yang mahal bagi narapidana di penjara. Tapi dia berharap mereka bisa melihat narapidana lebih dari sekadar orang yang dihukum karena melakukan tindak kejahatan, katanya. 

“Saya tidak mengabaikan apa yang mereka lakukan. Saya tidak mengabaikan orang yang melakukan tindakan melawan hukum,”kata Jimerson. “Maksud saya adalah, mereka adalah manusia. Dan ada ratusan orang yang baru pertama kali melakukan pelanggaran sehingga saat mereka pulang, mereka benar-benar bisa menghabiskan waktu dan menikmati sedikit kehidupan bersama keluarga mereka. ”

Tulisan ini diterjemahkan langsung dari artikel The Battle to Get Expensive Hep C Treatment in Prisons di https://tonic.vice.com/en_us/article/vbykzm/hep-c-drugs-prisons

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s