Diskusi Publik Pengobatan Hepatitis C Menggunakan Direct Acting Antiviral (DAA), Makassar

Posted by

IMG_0279

Pada tanggal 20 Maret 2017, bertempat di Hotel D’Maleo Makassar  diadakan Diskusi Publik membahas pengobatan Hepatitis C dengan menggunakan Direct Acting Antiviral (DAA).  Acara ini dibuka oleh Farid Satria dari PKNM yang kemudian dilanjukan dengan materi pendahuluan oleh Heatlh Advocacy Officer PKNI, Dika. Jumlah peserta yang hadir ada 30 orang, terdiri dari perwakilan dari Dinkes kota Makassar, Perwakilan layanan kesehatan makassar, dan perwakilan dari LSM. Dengan 2 narasumber yakni dari Dinkes Provinsi dan Dokter Konsultan Penyakit Hepatitis di Makassar.

Dika dari PKNI memaparkan mengenai tujuan dari diskusi publik yang dilaksanakan yakni agar pihak pemerintah dan komunitas bisa mengetahui manfaat besar dari pengobatan Direct Acting Antiviral (DAA). Dika juga menjelaskan mengenai informasi dasar dari hepatitis C dan bagaimana perkembangan pengobatannya hingga sekarang, yang intinya DAA merupakan pengobatan yang memiliki tingkat kesebuhan tinggi dan dengan efek samping yang paling sedikit untuk hepatitis C.

Kemudian dijelaskan lebih lanjut mengenai jenis-jenis obat DAA yang ada di kemenkes dan bagaimana proses terapi untuk penderita hepatitis C. Dika kemudian menjelaskan mengenai tantangan yang akan dialami oleh penderita hepatitis C nantinya. Seperti biaya diagnosis yang mahal meskipun obat DAA gratis, tanggal kadaluarsa yang pendek, dan simeprevir yang hanya unuk genotipe 1 dan 4 (tidak untuk semua genotipe 1-6).

Edo Wallad, melanjutkan materi pendahuluan dari Dika dengan membahas mengenai peran dari PKNI terhadap pengobatan DAA, yakni advokasi ketersediaan DAA, advokasi memasukan diagnosis dan pengobatan ke FORNAS dan BPJS, kemudian memberikan informasi kepada komunitas untuk melakukan advokasi tingkat lokal serta meningkatkan kesadaran dan akses komunitas terhadap pengobatan HCV.

Acara berlanjut dengan narasumber DR.Dr.Fardah Akil,SP.PD.KGEH selaku salah satu konsultan Hepatitis B dan C di Makassar, memulai materi dengan menjelaskan Hepatitis secara umum. Narasumber memberikan pendahuluan mengenai hepatitis C dengan memaparkan data secara global mengenai jumlah penderita HCV. Dari data  RS. Wahidin Sudiro Husodo hingga 2009 penderita HCV di makassar sebesar 4,1%. Narasumber mempersilahkan peserta diskusi untuk mengajukan pertanyaan sebelum lanjut ke materi selanjutnya.

Narasumber melanjutkan materi mengenai DAA dan dan Hepatitis C. Dari data yang dipaparkan narasumber menurut riset kesehatan dasar tahun 2013 perkembangan HCV naik menjadi 2,5 persen. Evaluasi terhadap pasien HCV sudah berubah, misalnya saja perubahan biopsi hati sudah tidak lagi dijadikan hal penentu untuk seorang pasien mengidap HCV. Narasumber kemudian menjelaskan mengenai perkembangan pengobatan hepatitis C sampai launching DAA pada tahun 2011 dengan 90% jaminan kesembuhan untuk pasien Hepatitis C. Selain itu sudah ada jenis DAA yang dapat menyembuhkan semua penderita HCV dengan genotipe 1-6.

Sebelum mengakhiri pemberian materi, DR.Dr.Fardah Akil,SP.PD.KGEH menjelaskan bahwa untuk penderita HCV tanpa mengidap penyakit lain bisa di tangani oleh dokter ahli dalam lainnya. Tetapi khusus untuk penderita HCV untuk beberapa penyakit lainnya seperti HIV harus melakukan konsultasi khusus kepada dokter konsultan HCV, untuk makassar ada 4 orang dokter yang menjadi konsultan. Karena akan banyak pertimbangan yang diperlukan sebelum memulai terapi bagi penderita HCV yang juga mengidap penyakit lain.  Salah satunya adalah pemberian obat.

Pemateri kedua Dr. Nurul dari dinas kesehatan provinsi Sulawesi Selatan memulai materinya dengan informasi bahwa obat DAA segera akan bisa diakses di Makassar dan mengenai diagnosa dan resep obat akan dilaksanakan oleh rumah sakit type A (untuk Makassar adalah Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudiro Husodo). Jumlah DAA yang diberikan di Makassar paling banyak dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Selanjutnya Dr. Nurul memberikan data estimasi kematian akibat penyakit menular dan penyakit hati merupakan penyakit ke 2 tertinggi sebagai penyakit menular yang menyebabkan kematian. Roadmap pengendalian hepatitis DINKES SulSel 30% kabupaten/kota melakukan Deteksi Dini Hepatitis B dan  (DDHBC) dan rencananya di 2018 akan melakukan 60% DDHBC di beberapa kabupaten/kota di SulSel. Untuk DDHBC tahun 2017 akan fokus pada ibu hamil.

Rekomendasi bersama yang dihasilkan dalam pertemuan ini :

  1. PKNM mengidentifikasi teman-teman yang ingin melakukan screening Hepatitis C
  2. PKNM proaktif berjejaring dengan stakeholders untuk memantau dan mengawal mekanisme pada saat obat nanti tersedia.
  3. Seknas PKNI mengawal pendistribusian obat DAA.
  4. Mendorong seknas PKNI sosialisasi mengenai Hepatitis C ke Sulsel terkait DAA.
  5. Agar semua kelompok RISTI Hepatitis C memiliki BPJS.
  6. PKNM ikut berkontribusi untuk memetakan alur layanan yang ada ke Seknas PKNI.
  7. Adanya PMO dalam menunjang kepatuhan minum obat.
  8. Kerjasama PKNM dan Dinkes untuk deteksi dini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s